Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM.

Ikuti Program Kami tiap hari Kamis jam 17.00 s.d 18.00 Talkshow di Radio SMART FM 88.9 FM."Sukses Bisnis bersama Kekuatan Spirit Tanpa Batas"

Kumpulan Kisah Teladan

Simak kisah teladan yang penuh inspirasi yang akan membuat hidup anda lebih semangat lagi.

Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah

Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, dunia ini kembali menjadi indah.

Fikrul Mustanir

Membentuk pribadi yang selalu menebar energi positif di dalam kehidupannya.

Karya-karya kami

Kumpulan karya-karya kami yang sudah terjual di toko buku Gramedia, Toga Mas dan lain-lain.

Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Friday, September 25, 2009

Jika Iman sedang mengakar di hati seseorang....


Jika Iman sedang mengakar di hati seseorang……

Suatu ketika saya menyaksikan dan menyimak tayangan acara syiar Islam di TVRI dengan host Bunda Neno warisman dengan salah satu pembicaranya adalah ust. Awwaludin yang tuna netra dan hafids Al-qur’an ketika membaca lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an tanpa terasa airmata saya menetes membasahi kedua pipi saya demikian juga bunda Neno dan audiens di TVRI. Subhaanallah ust. Awwaaludin yang buta saja mampu menghafal dan memahami al-qur’an dengan baik karena cintanya sama Allah dan Rasul-Nya, sejak kelas 3 SD setiap ada orang yang membaca al-qur’an dan dia mendengarnya terasa badannya bergetar dan meneteskan air mata.Dan sejak saat itu dia semangat belajar, menghafal dan memahami al-Qur’an padahal dirinya buta. Bagaimana dengan kita yang bisa melihat keindahan dunia tapi tidak pernah sungguh-sungguh mempelajari dan memahami al-qur’an?

Dengan Al-qur’an inilah, dulu Rasulullah Saw senantiasa mendidik para sahabat dengan pendidikan yang dalam. Al-qur’an selalu menyirami hati mereka dan majelis Nabi memberikan kemantapan dalam beragama dan menjadikan mereka tidak tergiur pada keindahan dan kemewahan dunia. Hati mereka selalu rindu pada akherat dan surga. Setiap saat mereka menghabiskan waktu untuk mencari ilmu dan muhasabah diri. Mereka senantiasa menanti seluruh perintah Rasulullah baik dalam keadaan sukar maupun longgar. Jika Rasulullah Saw keluar berjihad fisabilillah mereka selalu mendampingi beliau secara serentak. Selama sepuluh tahun mereka ikut jihad bersama rasulullah dalam dua puluh tujuh kali peperangan. Bahkan jika Rasulullah tidak ikut berperang mereka rela keluar berperang demi menjalankan perintah Nabi Muhammad SAW. Seluruh urusan duniawi dan urusan rumah tangga senantiasa dikesampingkan demi menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Semua ayat yang turun selalu mereka praktikan walaupun hal itu akan mengorbankan harta, jiwa,anak dan isteri. Mereka masuk ke dalam Islam secara keseluruhan dengan hati,jiwa dan raganya. Sedikitpun mereka tidak ragu terhadap kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah setelah mereka mengecap nikmatnya iman. Seluruh perintah Allah dan Rasul-Nya dipatuhi tanpa komentar sedikitpun. Bahkan mereka rela menerima hukuman syariat bila itu dianggap perlu. Ketika turun ayat yang mengharamkan minuman keras dan itu merupakan hal yang berat bagi mereka. Namun hal itu tidak menghalangi mereka untuk tetap patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan serentak mereka tumpahkan seluruh sisa minuman keras yang ada di rumah mereka sehingga kota madinah banjir dengan buangan minuman keras.

Para sahabat adalah contoh teladan baik yang dapat menyelamatkan dunia dari kerusakan dan bencana. Mereka adalah inti penyebaran Islam ke seluruh permukaan bumi. Rasulullah benar-benar berhasil mencetak kader-kader yang dapat meneruskan risalahnya untuk disampaikan ke seluruh umat manusia. “ Allah dan Rasul-Nya mengutus kami untuk membebaskan manusia dari penghambaan diri kepada selain Allah. Dan melepaskan manusia dari belenggu duniawi menuju dunia bebas. Dan dari agama yang sesat pada keadilan Islam.” Inilah jawaban Ruba’i bin Amir ketika ditanya oleh Panglima Rustum.
Seseorang yang mempunyai iman tangguh, ia akan mampu menjadi seseorang yang senantiasa bermoral tinggi, berkemauan keras, dan selalu mawas diri dalam segala hal. Andaikata seseorang yang beriman telah terjerumus ke dalam suatu dosa yang tidak diketahui oleh siapapun, maka imannya akan berontak. Iman itu akan menuntut kepada yang bersangkutan untuk mengakui dosa yang diperbuatnya. Meskipun hal itu akan menyeretnya ke dalam hukuman berat demi membebaskan diri mereka dari kemurkaan dan siksa Allah di akherat kelak. Kita bisa baca bukti keimanan tsb seperti pada hadits tentang Maiz dan Alghomidiyah lihat shahih muslim, kitabul hudud.

Iman yang tangguh seperti ini akan menjaga kejujuran dan kebersihan dan kemuliaan diri seseorang dari berbuat sesuatu yang dapat menodai dirinya. Dengan iman yang tangguh inilah yang dapat menjaga seseorang dari godaan harta maupun hawa nafsu yang selalu menggiurkannya setiap saat. Ia akan terjaga dengan imannya itu, baik ia sedang berada seorang diri dan tidak diketahui oleh seorang pun, maupun ketika ia dipuncak kekuasaan.Dalam sejarah penaklukan Islam banyak kejadian yang menggambarkan kejujuran dan ketidakrakusan orang Islam ketika menghadapi godaan harta yang bertumpuk di hadapannya. Semua harta itu disampaikan kepada yang berhak menerima dengan penuh keikhlasan dan kejujuran. Kejadian semacam ini jarang terdapat dalam sejarah umat manusia dimanapun juga. Kejadian semacam ini tidak lain menunjukkan betapa kokohnya iman dan ketinggian rasa takwa orang Islam di setiap saat dan di segala masa. Inilah yang kita sebut dengan Al-Quwwah ar-ruhiyyah ( kesadaran akan hubungan kita dengan Allah) yang harus terus-menerus kita bangun dan kita tancapkan pada diri kita kaum muslimin. Ingatlah dunia Islam tidak akan pernah bangkit kecuali dengan mengemban dan menerapkan Risalah Islam yang dibawa oleh baginda Rasulullah Muhammad SAW bahkan kerugian dunia dan umat manusia karena kemunduran umat Islam ketika mereka mengabaikan syariat Allah.

Sadarlah wahai kaum muslimin!

Kalian adalah pewaris Nabi, kalian adalah anak cucu sahabat-sahabat Nabi Yang mulia ; Abu Bakar ra, Umar bin khattab ra, Usman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Kalian adalah anak cucu dan penerus khalifah yang adil Umar bin Abdul Azis, kalian adalah anak cucu panglima-panglima Islam yang hebat, Saad bin Abi waqash, Khalid bin Walid, Sultan penakluk konstantinopel M. Alfatih, panglima Islam yang ditakuti dan disegani baik kawan maupun lawan Sholahudin Al-Ayyubi. Oleh karena itu embanlah kembali tugas dakwah islam dan hendaklah kita kaum muslimin senantiasa siap mengorbankan segala-galanya untuk kepentingan dakwah, dan berjuanglah di jalan tempat berpijaknya para Nabi dan Rasul Allah itu. Allahu Akbar 1000 kali.

( Spiritual Motivator N.Faqih Syarif H, www.mentorplus.multiply.com atau www.fikrulmustanir.blogspot.com )

Thursday, September 24, 2009

Launcing Buku Al-Quwwah arruhiyah bersama Inspirator Sukses Mulia Jamil Azzaini



Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

Alhamdulillah, di tengah-tengah mudik dan silaturahim bersama keluarga saya di telpon oleh Mas Dwi dari Gramedia publisher bahwa buku terbaru sy. al-quwwah arruhiyah, kekuatan motivasi tanpa tanding akan terbit pada bulan oktober tahun ini. Insya Allah akan dilauncing 4 Oktober 2009 bersama Inspirator Sukses Mulia Jamil Azzaini di Surabaya.Semoga dengan kehadiran buku Al-Quwwah arruhiyah, kekuatan motivasi tanpa tanding mampu menginspirasi banyak orang untuk meraih sukses mulia. Nantikan kehadirannya di toko-toko buku Gramedia dan toko toko buku besar di kota Anda.
Dapatkan Bonus Khusus berupa buku langsung dari Spiritual Motivator N. Faqih Syarif H serta mengikuti Program Mentor FM Plus utk menjadi Trainer dan penulis secara Gratisss bila anda pesan Buku Al-Quwwah arruhiyah langsung ke Penulis di 081330447814 hanya berlaku bagi 100 Orang pemesan pertama.

Salam Dahsyat dan Luar Biasa!
N.Faqih Syarif H
Spiritual Motivator

Monday, September 21, 2009

Khutbah Idul Futhri !430H


Khutbah Idul Fithri 1430 H
Raih Takwa, Songsong Tegaknya Syariah dan Khilafah
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر 3× الله أكبر 3×
اللهُ أَكْبَرْ كَبِيْراً وَالْحَمْدَ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلَهَ إلاَّ الله هُوَ الله أَكْبَر، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ هَذَ الْيَوْمِ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الصِّياَمَ، وَنَزَّلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناَتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانَ خَيْرَ نِعَمٍ، نَحْمَدُهُ عَلَى كَمَالِ اِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وهو يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَرَبٌّ حَيٌّ لا يموت وَهُوَ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرَ اْلأَناَمِ.
أُصَلِّيْ وَاُسَلِّمُ عَلَى الْقَائِدِ وَالْقُدْوَةِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ وَمَنْ جاَهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَقًّ جِهاَدِهِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ، وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ..
Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd
Segala puji hanya milik Allah SWT, Pencipta, Pemilik dan Pengatur seluruh alam semesta. Dialah Pemberi nikmat kepada seluruh hamba-Nya, termasuk kita semua. Maka sudah sepantasnya kita memuji keagungan-Nya dan bersyukur atas seluruh nikmat-Nya yang diberikan kepada kita.
Kita bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah, selain Allah SWT. Kita juga bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah, panutan dan teladan bagi seluruh umat manusia. Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada beliau SAW, keluarga, kerabat dan para sahabat beliau, serta seluruh kaum Muslim yang secara istiqamah menjalankan dan mendakwahkan ajarannya. Amiin.
Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd,
Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh
Pagi ini kita berkumpul bersama untuk memenuhi panggilan Allah SWT dan Rasul-Nya. Di hari bahagia ini, kaum Muslim di seluruh dunia menggemakan kalimat takbîr, tahlîl dan tahmîd. Semua kalimat thayyibah itu diucapkan sebagai bagian dari ketundukan kepada Allah SWT dan ungkapan rasa syukur kepada-Nya. Dialah yang telah memberikan hidayah, kekuatan, dan kesabaran kepada kita hingga kita mampu menyelesaikan shaum Ramadhan kita dengan sebaik-baiknya. Itulah yang membuat kita menjadi bahagia.
Kebahagiaan yang kita rasakan saat ini merupakan salah satu dari kebahagiaan yang telah dijanjikan Rasulullah SAW bagi orang-orang yang berpuasa:
«لِلصَّائِمِ فَرْحَتاَنِ يَفْرَحُهُماَ إِذاَ أَفْطَرَ فَرَحَ، وَإِذاَ لَقِي رَبَّهُ فَرَحَ بِصَوْمِهِ»
Bagi seorang yang berpuasa diberikan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan saat berbuka (termasuk saat idul fitri) dan kebahagiaan saat bertemu dengan Rabb-nya dengan puasanya (HR al-Bukhari, Muslim, dan al-Tirmidzi dari Abu Hurairah).
Kita juga berbahagia karena kita memiliki harapan dengan amal yang kita kerjakan. Dengan selesainya ibadah puasa, kita berharap agar dosa-dosa kita diampuni, diberikan pahala yang besar, dibebaskan dari api neraka, dan dimasukkan ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan, sebagaimana dijanjikan Allah SWT dan rasul-Nya.
Kita juga berbahagia menyaksikan kaum Muslim mengagungkan asma’ Allah, berbondong-bondong menuju tempat shalat, menunaikan shalat berjamaah, berbaris rapi dan bersimpuh bersama mendengarkan khutbah. Realitas ini seolah menunjukkan kepada kita bahwa inilah jati diri umat Islam yang sebenarnya.
Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh,
Kendati jiwa kita diliputi suasana bahagia, namun kita tidak boleh melupakan nasib saudara-saudara kita di berbagai negara yang sangat menyedihkan. Di Irak dan Afghanistan, nasib saudara-saudara kita juga masih belum banyak berubah. Mereka hidup di bawah cengkeraman penjajahan negara imperialis dan agresor, Amerika Serikat. Sementara para penguasa di kedua negeri tersebut tak lebih dari antek yang mengabdi untuk negara penjajah.
Di Palestina nasib kaum Muslim tak kalah mengenaskan. Negeri mereka, yang sesungguhnya menjadi milik seluruh kaum Muslim, dirampas kaum Yahudi Israel. Sebagian mereka terusir dari negerinya, hidup menderita dan terlunta-lunta, bahkan yang lebih menyedihkan adalah nasib mereka yang tinggal di kamp-kamp pengungsian. Tidak ada satu pun negeri di sekitar mereka yang mau mengakui mereka sebagai warganya. Mereka tidak bisa ke mana-mana, karena tidak memiliki identitas kewarganegaraan. Sedangkan yang masih tersisa, keadaan mereka selalu terancam oleh kebiadaban bangsa terlaknat itu. Mereka harus menghadapi negara zionis sendirian dengan senjata seadanya. Sementara para penguasa di negeri-negeri Muslim lainnya hanya berdiam diri. Bahkan di antara mereka ada yang bersekutu dengan musuh Allah itu dalam membantai saudara-saudara mereka.
Keadaan memilukan dialami saudara-saudara kita di China. Di negara Komunis itu, umat Islam dari suku Uighur, di Xinjiang —yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai Turkistan Timur— menjadi korban kebrutalan suku Han, yang didukung penuh oleh rezim Komunis, China. Sementara di Turki, para pejuang syariah dan khilafah harus menghadapi sikap represif penguasa sekular. Hingga kini, ratusan aktivis Hizbut Tahrir Turki ditahan dan dipenjara tanpa alasan.
Juga tidak boleh dilupakan isu terorisme yang kembali mencuat di negeri ini. Pihak-pihak yang membenci Islam berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengaitkan aksi terorisme dengan perjuangan menegakkan syariah. Padahal jelas, antara terorisme dan dakwah tidak ada kaitannya. Bahkan ada yang ingin membungkam dakwah dengan memprovokasi penguasa agar menerapkan kembali undang-undang represif seperti pada rezim otoriter sebelumnya.
Nasib yang dialami saudara-saudara kita di Pattani Thailand, Moro Philipina Selatan, Kashmir, Rohingya di Miyanmar, Pakistan, Banglades, dan lain-lain kian memperpanjang daftar penderitaan umat Islam. Karena itu, wajar jika kita katakan, bahwa kita merayakan Hari Kemenangan ini dalam Kekalahan. Karenanya, mari kita berdoa semoga kekalahan demi kekalahan yang dialami umat Islam ini segera berakhir, dan digantikan dengan kemenangan demi kemenangan sebagaimana sejarah emas umat Islam di masa lalu. Amin, ya Mujib al-sâilin.
Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd,
Meskipun realitas kaum Muslim kini sedang terpuruk, namun kita tidak boleh merasa pesimis dan putus asa. Sebaliknya, kita harus yakin bahwa kaum Muslim akan kembali tampil menjadi pemimpin dunia. Keyakinan ini bukan mimpi, apalagi hanya ilusi. Namun ini didasarkan pada janji Allah SWT dan rasul-Nya yang pasti ditepati. Janji Allah SWT ini sebagaimana Dia nyatakan dalam firman-Nya:
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik (QS al-Nur [24]: 55).
Dalam ayat ini, ada tiga perkara yang dijanjikan kepada kaum Muslim. Pertama, mereka akan kembali diberikan kekhilafahan sebagaimana pendahulu mereka. Ini artinya, mereka akan kembali berkuasa dan mempin dunia dengan Khilafah. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm menjelaskan bahwa kata layastakhlifannahum fî al-ardh berarti menjadikan mereka sebagai khalifah-khalifah di muka bumi. Yakni, menjadi para pemimpin dan wali bagi umat manusia. Imam al-Syaukani menegaskan, bahwa janji ini berlaku umum untuk seluruh umat ini.
Kedua, posisi Islam akan diteguhkan bagi kaum Muslim. Ketika Khilafah belum tegak, banyak hukum Islam yang ditelantarkan, ditolak bahkan dilecehkan. Dengan tegaknya Khilafah, semua hukum Islam bisa diterapkan. Khilafah juga menjadi penjaga agama dari setiap bentuk pelanggaran, pengingkaran dan penistaan. Maka Islam menjadi agama yang teguh dan kokoh di tengah-tengah kehidupan. Lebi dari itu, Khilafah akan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia, sehingga mengalahkan semua agama dan ideologi.
Di masa kekhilafahan Abu Bakar, ketika ada sekompok orang yang menolak membayar zakat, beliau segera bertindak tegas. Khalifah pertama itu berkata, “Demi Allah, aku pasti akan memerangi orang-orang yang memisahkan shalat dengan zakat karena zakat itu hak harta. Demi Allah, andai mereka menolak membayar zakat unta dan kambing yang dulu mereka bayarkan kepada Rasulullah saw, aku pasti memerangi mereka karena penolakan tersebut” (HR al-Bukhari dan Ahmad).
Ketiga, perubahan nasib umat Islam, yang sebelumnya diliputi dengan ketakutan berubah menjadi aman sentosa. Ketika kaum Muslim hidup tanpa Khilafah, tidak ada institusi yang melindungi dan menjaga mereka. Akibatnya, musuh-musuh Islam dengan mudah merampas harta mereka, menghinakan kehormatan mereka dan menumpahkan darah mereka. Tegaknya Khilafah akan mengubah keadaan yang menyedihkan ini. Sebab, Khilafahlah institusi pelindung bagi kaum Muslim. Rasulullah SAW bersabda:
«إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»
Sesungguhnya imam (kepala negara/khalifah) adalah perisai, tempat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya (HR Muslim dari Abu Huraira).
Di masa Khalifah al-Mu’tashim Billah, ketika seorang Muslimah jilbabnya ditarik oleh salah seorang Romawi, wanita itu meminta tolongan kepada sang Khalifah, maka beliau pun serta merta bangkit dan memimpin sendiri pasukannya untuk melakukan perhitungan terhadap pelecehan yang dilakukan oleh orang Romawi itu. Sesampainya di Amuria, beliau meminta agar orang Romawi pelaku kezaliman itu diserahkan untuk di-qishash. Saat penguasa Romawi menolaknya, beliau pun menyerang kota, menghancurkan benteng pertahanannya dan menerobos pintu-pintunya hingga kota itu pun jatuh ke tangannya.
Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh,
Kita berharap, janji Allah SWT ini segera tiba. Terlebih saat ini kita sedang berada dalam masa mulk[an] jabriyyah (penguasa diktator), yaitu fase akhir dari bisyarah Nabawiyyah. Semenjak Khilafah Utmani dibubarkan Musthafa Kemal Pasha tahun 1924, umat Islam terpecah-belah dalam banyak negara kecil. Penguasa di seluruh negara itu memerintah bukan dengan hukum Allah. Mereka pun menjadi penguasa diktator dan otoriter, karena mempertahankan kepentingan diri, kroni dan majikan-majikan penjajah mereka.
Dalam hadits Hudzaifah disebutkan, setelah hidup di bawah penguasa mulk[an] jabriyyah, umat Islam akan kembali hidup dalam naungan Khilafah ‘alâ minhâj al-nubuwwah. Rasulullah saw bersabda:
«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ»
Di tengah-tengah kalian sedang berlangsung zaman kenabian. Selama Allah berkehendak, ia akan tetap ada. Kemudian Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian ada zaman Khilafah yang mengikuti metode kenabian. Maka, dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada. Kemudian Dia pun mengakhirinya, jika Allah berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada para penguasa yang menggigit. Dengan kehendak Allah, ia pun tetap ada, kemudian Dia pun mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada para penguasa diktator. Dengan kehendak Allah, ia pun tetap ada, kemudian Dia pun mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian. Setelah itu, beliau diam (HR Ahmad dalam Musnad-nya, dimana semua perawinya adalah tsiqqat).
Bertolak dari Hadits ini, tegaknya Khilafah alâ minhâj al-nubuwwah yang kedua, insya Allah tidak akan lama lagi.
Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd,
Kami perlu tegaskan, bahwa kembalinya Khilafah merupakan nasrul-Lâh (pertolongan Allah) kepada kaum Muslim. Sedangkan al-nashr (pertolongan) itu mutlak milik Allah SWT. Karena itu, tidak ada seorang pun yang mampu mendatangkan atau menolaknya; memajukan atau menundanya. Bahkan Rasul sekalipun, tidak bisa menentukan sendiri kapan dan di mana pertolongan itu akan datang. Di antara buktinya adalah ketika kaum Muslim ditimpa cobaan amat dahsyat, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah SAW kapankah pertolongan akan datang, beliau hanya menjawab:
Ingatlah, sesungguhnya pertolongan itu amat dekat (QS al-Baqarah [2]: 214).
Kalau begitu, apakah kita harus diam dan hanya menunggu datangnya pertolongan tersebut? Jawabnya: Tidak! Sebab, Allah SWT Yang Maha Adil telah menetapkan syarat bagi hamba-Nya yang ingin mendapat pertolongan-Nya. Syaratnya, hamba itu harus bersedia menolong agama-Nya. Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS Muhammad [47]: 7).
Ungkapan ‘menolong Allah’ ini bukanlah bermakna hakiki. Sebab, Allah Swt tidak membutuhkan pertolongan hamba-Nya. Sebaliknya, Dialah yang berkuasa memberikan pertolongan. Bahkan tidak ada pertolongan kecuali berasal dari-Nya sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS Ali ‘Imran [3]: 126).
Karena itu, pengertian ‘menolong Allah’, bukanlah bermakna hakiki. Sebagaimana dijelaskan Abu Hayyan al-Andalusi dalam Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, bahwa ungkapan tersebut bermakna menolong agama-Nya. Menurut mufassir lainnya, seperti Ibnu al-Jauzi, al-Zamakhsyari, al-Baidhawi, dan Syihabuddin al-Alusi rahimahumul-Lâh selain menolong agama-Nya, juga menolong rasul-Nya.
Secara lebih gamblang, Abdurrahman al-Sa’di menjelaskan bahwa amaliyyah praktis ‘menolong Allah’ adalah dengan melaksanakan agama-Nya, berdakwah kepada-Nya, dan berjihad melawan musuh-musuh-Nya, yang dilakukan dengan niat ikhlas karena-Nya. Ustadz Abdul Lathif ‘Uwaidhah dalam Haml al-Da’wah Wâjibât wa Shifât menuturkan bahwa ungkapan ‘menolong Allah’ itu meliputi: mengimani syariah yang dibawa Rasul, berpegang teguh dengan hukum-hukum yang dibawa, mentaati perintah, dan menjauhi larangan-Nya.
Dari semua penjelasan itu dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud dengan ‘menolong Allah’ itu adalah bertakwa kepada-Nya, yakni menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Lalu disempurnakan lagi dengan meninggalkan sebagian perkara mubah. Rasulullah saw bersabda:
«لاَ يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لاَ بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ»
Seorang hamba tidak sampai menjadi muttaqin hingga meninggalkan apa yang sebenarnya boleh karena khawatir terjatuh pada apa yang tidak boleh (HR al-Tirmidzi).
Takwa inilah yang menjadi syarat diturunkannya pertolongan Allah kepada hamba-Nya. Maka siapa pun yang bertakwa, dia sesungguhnya berhak mendapatkan pertolongan-Nya.
Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh,
Para sahabat Nabi radhiyal-Lâh ‘anhum adalah orang-orang yang telah mendapatkan pertolongan Allah SWT lantaran ketakwaan mereka. Bahwa takwa merupakan syarat diturunkannya pertolongan Allah telah menjadi pemahaman mereka. Umar bin al-Khaththab ra pernah berkata:
«فَإِنْ لَمْ نُغَِلَّبْهُمْ بِطَاعَتِنَا غَلَّبُوْنَا بِقُوَّتِهِمْ»
Jika kita tidak mengalahkan musuh kita dengan ketaatan kita (kepada Allah), nisacaya musuh akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka.
Salah satu panglima dalam Perang Mu’tah, Abdullah bin Rawahah juga pernah mengatakan:
«مَا نُقَاتِلُ النَّاسَ بِعَدَدٍ وَلاً قُوّةٍ وَلاَ كَثْرَةٍ مَا نُقَاتِلُهُمْ إِلاَّ بِهَذَا الدِّيْن الَّذِي أَكْرَمَنَا اللَّه به»
Kita memerangi manusia bukan dengan jumlah, kekuatan, dan pasukan yang banyak. Namun kita memerangi mereka dengan agama ini, yang dengan agama inilah Allah memuliakan kita (HR Ibnu Ishaq).
Karena itu, syarat takwa ini harus benar-benar kita perhatikan. Pelanggaran sedikit saja terhadap perkara tersebut, bisa menjauhkan pertolongan Allah SWT. Kasus Perang Hunain bisa menjadi pelajaran berharga. Pada perang ini, pasukan Islam berjumlah 12.000 orang. Sebagian di antara mereka mengira akan mengalahkan musuh mereka dengan mudah. Jumlah pasukan yang besar dianggap merupakan sebab kemenangan. Namun apa yang terjadi? Pada perang tersebut, pasukan Islam justru sempat lari tunggang-langgang digempur musuh dan hampir menderita kekalahan. Ketika mereka menyadari, bahwa mereka berangkat untuk berjihad, ikhlas karena Allah SWT, mereka pun segera merapatkan kembali barisannya. Sesudah itu, Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (QS al-Taubah [9]: 25-26).
Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd,
Jelaslah, agar pertolongan Allah segera datang, dan Khilafah tegak kembali, kita harus meningkatkan ketakwaan kita. Kita harus bertakwa dengan sebenar-benarnya (haqqa tuqâtihi). Sebab, ketakwaan inilah yang diperintahkan dalam QS Ali ‘Imran [3]: 102. Takwa yang sebenar-benarnya ini hanya ada, ketika kita telah mengerahkan seluruh kemampuan yang kita miliki untuk merealisasikannya. Allah SWT berfirman:
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu (QS al-Taghabun [64]: 16).
Kata mâ [i]statha’tum berarti sampai batas kemampuan yang kalian miliki. Ini artinya, dalam bertakwa kita harus mengerahkan seluruh kemampuan yang kita miliki. Bukan dengan setengah, sepertiga atau seperempat kemampuan kita.
Kita juga harus bertakwa dalam semua perkara yang disyariahkan. Tidak hanya menyangkut perkara ubudiyyah, makanan, dan akhlak saja. Namun juga bertakwa dalam perkara politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, pergaulan, sanksi-sanksi hukum, dan seluruh bidang kehidupan lainnya. Allah SWT berfirman:
Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya (QS al-Hasyr [59] 7).
Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh,
Selain ketakwaan berupa ketaatan kepada hukum syara’, masih ada satu lagi yang harus diperhatikan untuk mendapatkan pertolongan Allah. Kita juga harus melakukan berbagai persiapan dan cara yang benar sesuai dengan keperluannya.
Aspek kedua ini juga harus kita perhatikan. Peristiwa dalam Perang Uhud bisa menjadi pelajaran berharga dalam perkara ini. Karena sebagian di antara mereka —yakni pasukan pemanah yang bertugas di atas bukit– tidak disiplin terhadap uslub (ketentuan teknis) yang telah ditetapkan Rasulullah SAW, kemenangan yang sudah hampir di tangan terpaksa harus sirna.
Untuk memperoleh kemenangan dalam peperangan misalnya, kaum Muslim harus terikat dengan syariah. Selain itu, kita juga harus melakukan persiapan, menyiapkan persenjataan, dan merancang strategi militer yang dapat mengalahkan dan menggentarkan musuh sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam QS al-Anfal [8]: 60. Dengan terpenuhinya dua syarat itu, insya Allah akan meraih kemenangan.
Demikian juga dalam perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah. ِSyariat Islam (QS Ali ‘Imran [3]: 104) mengharuskan adanya kelompok atau organisasi dakwah. Gerakan/organisasi dakwah ini harus tunduk pada kewajiban syar’i. Asasnya akidah Islam, tujuannya melangsungkan kembali kehidupan Islam dengan tegaknya Khilafah, serta mengadopsi pemikiran dan hukum Islam. Dalam mencapai tujuan, gerakan tersebut juga harus mengikuti tharîqah (metode) dakwah Rasulullah SWT. Baik fikrah dan thariqah-nya tidak boleh menyimpang sedikit pun dari Islam. Anggota-anggotanya harus Muslim, taat kepada syariah, dan ikhlas berjuang karena Allah. Kemudian semuanya diikat dengan fikrah dan thariqah yang sama. Selain itu, mereka juga harus mempunyai politik yang sempurna.
Selain memenuhi kewajiban syar’i, gerakan/organisasi dakwah beserta pengembannya itu harus menggunakan berbagai uslûb (cara) dan wasîlah (sarana) yang mendukung tercapainya tujuan perjuangannya: tegaknya Khilafah. Dengan terpenuhinya dua syarat ini, insya Allah tegaknya khilafah hanya soal waktu.
Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd,
Inilah syarat-syarat yang harus kita realisasikan untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT: mengokokan keterikatan pada syariah dan menyiapkan berbagai cara dan sarana yang paling tepat. Dua aspek inilah yang harus terus-menerus kita jaga dan kita tingkatkan. Jika semua syarat ini sudah dipenuhi, insya Allah pertolongan-Nya segera tiba. Karena itu, jangan sekali-kali berputus asa, apalagi berbelok arah dan mengambil langkah pragmatis. Na’ûdzu bil-Lâh.
Akhirnya, hanya kepada-Nyalah kita mengharapkan pertolongan. Sebab Allah SWT berfirman:
Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal (Qs Ali ‘Imran [3]: 160).
Semoga Allah SWT memberikan kepada kita kekuatan iman dan semangat untuk menjalankan hukum-hukum Allah SWT. serta memasukkan kita ke dalam golongan pejuang-pejuang Islam, yang berupaya mewujudkan Khilafah, yang mengikuti manhaj Nabi SAW. Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima di sisi Allah SWT, dan kita berhasil meraih derajat takwa.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعَا إِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ وَمَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ إِلى يَوْمِ الدِّيْنِ..
اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا، اللّهُمَّ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ،
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ،
اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ بِاْلأِيْماَنِ كاَمِلِيْنَ وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ وَلِلدَّعْوَةِ حَامِلِيْنَ وَبِاْلإِسْلاَمِ مُتَمَسِّكِيْنَ وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ وَفِي اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ وَلِلنِّعَمِ شاَكِرِيْنَ وَعَلَى اْلبَلاَءِ صاَبِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ بِلاَدَنَا هَذَا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ سَخَاءً رَخاَءً، اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ بِناَ سُوْأً فَأَشْغِلْهُ فِي نَفْسِهِ وَمَنْ كَادَنَا فَكِدْهُ وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُ في تَدْبِيْرِهِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ فِيْ ضَمَانِكَ وَأَمَانِكَ وَبِرِّكَ وَاِحْسَانِكَ وَاحْرُسْ بِعَيْنِكَ الَّتِيْ لاَ تَناَمُ وَاحْفَظْناَ بِرُكْنِكَ الَّذِيْ لاَ يُرَامُ.
اَللَّهُمَّ اَعِزِّ الإسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَنَا وَأَعْدَاءَ الدِّيْنِ،
اَللَّهُمَّ دَمِّرْ جُيُوْشَ الْكُفَّارِ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ أَمْرِيْكَا وَحُلَفَاءَهَا الْمُلْعُوْنِيْنَ، اَللَّهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ بِقُوَّتِكَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
اَللّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ الْحِساَبِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ والَصَلِّيْبِيِّيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَإِخْوَانَهُمْ وَ اْلإِشْتِرَاكَيِّيْنَ وَالشُيُوْعِيِّيْنَ وَأَشْيَاعَهُمْ،
وَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ تَحْرِيْرَ بِلاَدِ المُسْلِمِيْنَ، مِنْ فَلَسْطِيْنِ، وَاْلأَقْصَى، وَالْعِرَاقِ، وَالشَّيْشَانَ، وَأَفْغَانِسْتَانَ، وَسَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نُفُوْذِ الْكُفَّارِ الْغَاصِبِيْنَ وَالْمُسْتَعْمِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ احْفَظْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلَّذِيْنَ يُقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَ يُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَيَصُوْمُوْنَ صَوْمَ رَمَضَانَ، وَيَحُجُّوْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ وَيُجَاهِدُوْنَ فِي سَبِيْلِكَ بِأَمْوَالِنَا وَأَنْفُسِنَا وََيحْمِلُوْنَ الدَّعْوَةَ الإِسْلاَمِيَّةَ لاِسْتِئْنَافِ الْحَيَاةِ الإِسْلاَمِيَّة.
اَللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الخِلاَفَة الرَاشِدَة عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، اَلَّتِي تُطَّبِّقُ شَرِيْعَتَكَ الْعُظْمَى وَتَحْمِي دِيْنَكَ وَمُعْتَنِقِيْهِ، وَتَحْمِلُهَا رِسَالَةَ إِلَى الْعَالَم بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
اللهُ اَكْبَرْ 3× وَللهِ الْحَمْدُ.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

(Disampaikan oleh N.Faqih Syarif H,S.Sos.I,M.Si, di Depan sekitar2500 Orang Pada Sholat Ied Di jalan Raya di Driyorejo Gresik kota Baru dilaksanakan Paguyuban Muslim se-Driyorejo Gresik Kota Baru)

Wednesday, September 16, 2009

Insya Allah Kita akan berlebaran serentak baik NU,Muhammadiyah,HTI,Persis, Al-Irsyad,..


Apakah lebaran kali ini akan kita rayakan bersama-sama? Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, maka kondisi hilal pada akhir bulan Ramadhan kali ini memberi peluang kita akan lebaran bersama-sama. Apakah demikian? Berikut prediksi awal Syawal 1430 Hijriyah.

Rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Syawwal 1430 Hijriyah akan dilaksanakan pada Sabtu sore (19/9) bertepatan dengan 29 Ramadhan 1430 H. Data rukyat untuk Yogyakarta: Matahari terbenam pada pukul 17:35 WIB pada azimuth 271°14' - Tinggi Bulan saat Matahari terbenam 5°25' di atas ufuk Hakiki pada azimuth 264°21' atau di sebelah kiri-atas posisi Matahari. Bulan terbenam pada 18:02 WIB pada azimuth 263°23'. Walaupun rukyat menggunakan mata telanjang adalah mustahil pada kondisi seperti ini, namun dalam kondisi cuaca yang cerah dan didukung oleh peralatan bantu penglihatan (teleskop/binokuler) maka masih ada peluang hilal dapat dirukyat.

RHI Yogyakarta merencanakan akan melakukan rukyatul hilal bersama Tim BHR DIY pada Sabtu, 19 September 2009 di beberapa lokasi rukyat di DIY. Antara lain POB Bela-belu Parangkusumo Yogyakarta, POB Bukit Brambang Pathuk Gunungkidul dan POB Pantai Trisik Kulonprogo. Kesemua lokasi akan dilengkapi peralatan rukyat yang cukup standard. Bahkan di lokasi rukyat utama di POB Bela-belu akan dipasang teleskop yang sangat canggih yang dapat mencari dan mengikuti gerakan Bulan secara otomatis yaitu Teleskop VIXEN dengan hand controlnya yang dinamakan Starbook.

Prediksi Awal Bulan Menurut Berbagai Kriteria

1. Menurut Kriteria Rukyat Hilal ( Limit Danjon )

Melihat lokasi Indonesia menurut peta visibilitas di atas, kalau Kriteria Limit Danjon diberlakukan maka di wilayah Indonesia ada peluang dapat menyaksikan hilal walaupun harus menggunakan alat bantu teleskop maupun binokuler serta pada kondisi cuaca yang bagus. Sementara rukyat menggunakan mata telanjang adalah mustahil pada kondisi hilal seperti ini. Dan sangat besar kemungkinan akan ada laporan rukyat dari lokasi-lokasi yang bahkan hanya menggunakan mata telanjang. Namun demikian, walaupun hal ini mustahil laporan tersebut akan dijadikan acuan penetapan awal bulan pada sidang isbat yang digelar di Jakarta dan menetapkan awal bulan jatuh pada : Ahad, 20 September 2009

2. Menurut Kriteria Imkanur Rukyat

Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada Kalender Islam negara-negara tersebut yang menyatakan :



Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

(1)· Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan

(2). Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau

(3)· Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.

Menurut Peta Ketinggian Hilal di atas pada hari pertama ijtimak syarat Imkanurrukyat MABIMS sudah terpenuhi. Dengan demikian awal bulan jatuh pada : Ahad, 20 September 2009

3. Menurut Kriteria Wujudul Hilal

Kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah menyatakan bahwa : "Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam". Berdasarkan posisi hilal saat matahari terbenam di beberapa bagian wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal sudah terpenuhi. Maka awal bulan ditetapkan jatuh pada : Ahad, 20 September 2009

4. Menurut Kriteria Kalender Hijriyah Global

Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi 180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).

Pada hari pertama ijtimak zone Barat maupun zone Timur sudah masuk dalam kriteria Limit Danjon. Dengan demikian awal bulan di masing-masing zona akan jatuh pada :

Zona Timur : Ahad, 20 September 2009

Zona Barat : Ahad, 20 September 2009

( Sumber RHI,Rukyatul Hilal Indonesia )

Monday, September 14, 2009

Menggapai Nashrullah


MENGGAPAI NASHRULLAH

Kepastian Nashrullah

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Artinya : Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesngguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (TQS. Al-Hajj : 40)

Ayat ini menjelaskan kepastian pertolongan Allah bagi orang yang menolong-Nya. Kepastian pertolongan Allah ini dapat dilihat dari penggunaan perangkat tauqid sebanyak dua kali, yaitu lam ibtida’ dan nun tauqid (nun bertasydid). Penggunaan perangkat tauqid ini bertujuan agar orang yang menerima informasi benar-benar yakin akan kebenaran isi berita yang disampaikan kepadanya. Apalagi ditekankan sampai dua kali penekanan. Maka semestinya tidak boleh ada keraguan sedikitpun dibenak kita bahwa Allah benar-benar akan menolong orang yang menolong-Nya.

Imam Al-Baghowi menjelaskan, bahwa menolong Allah yang dimaksud adalah menolong agama-Nya dan nabi-Nya. Sedangkan Imam Ath-Thobari menjelaskan, bahwa yang dimaksud adalah berjihad di jalan Allah, untuk meninggikan kalimat Allah atas ejekan musuh-musuh-Nya.

Menolong agamanya Allah berarti menolong agama Islam. Dengan kata lain mengembalikan posisi agama Islam sebagaimana mestinya. Islam sebagai pandangan hidup, Islam sebagai mabda’/ideologi yang seharusnya menjadi rujukan bagi setiap perundang-undangan di semua sektor kehidupan, baik ekonomi, politik, sosial, pendidikan, kesehatan, hubungan luar negeri, maupun sektor-sektor lainnya, tidak satupun boleh bertentangan dengan aqidah Islam. Ketika semua itu belum terlaksana, maka menolong agama Allah berarti segala aktivitas yang berupaya untuk mengembalikan kehidupan ini agar diatur oleh syariat Islam. Menolong Nabi Allah, berarti membela nabi celaan dan cercaan musuh-musuh Allah, baik berupa pembuatan kartun bergambar nabi dengan berbagai cercaannya, seperti yang telah dilakukan media massa di Denmark maupun anggota parlemen Belanda. Demikian juga menjelaskan kepada umat bahwa munculnya pengakuan nabi-nabi setelah Nabi Muhammad SAW adalah suatu kedustaan yang para pelakunya harus ditindak tegas karena melakukan penodaan terhadap aqidah Islam.

Menolong agama Allah berarti berjihad di jalan Allah untuk menjunjung tinggi kalimat Allah sebagaimana penjelasan Imam Ath-Thobari, dapat dilakukan dengan mendudukkan kembali makna jihad pada posisi yang tepat. Bukan jihad dalam pengertian bersungguh-sungguh dalam belajar, bersungguh-sungguh dalam bekerja, sebagaimana yang banyak diserukan oleh orang-orang yang tidak mengerti Islam, dan orang-orang yang takut diberi “stempel” teroris oleh musuh-musuh Islam. Padahal makna jihad yang sebenarnya adalah berperang untuk meninggikan kalimat Allah baik secara devensif, yakni jihad untuk membela hak-haknya yang dirampas oleh musuh seperti yang dilakukan oleh umat Islam yang ada di Palestina, Pakistan dan Afganistan maupun secara ofensif, yakni futuhat yang akan dilakukan setelah Daulah Khilafah berdiri.

Ada beberapa ayat yang lain yang menjelaskan keniscayaan pertolongan Allah bagi orang-orang yang beriman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (TQS. Muhammad : 7)

Imam Ath-Thobari menjelaskan ayat ini, hai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu disebabkan karena pertolonganmu kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW, atas musuh-musuhnya dari orang-orang kafir, dan karena jihadmu bersama Rasul untuk meninggikan kalimat Allah. Inilah yang menyebabkan kamu ditolong Allah, karena kamu telah menolong Rasul-Nya dan kekasih-Nya.

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

Artinya : Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). (TQS. Ghofir : 51)

Imam Ar-Rozi menegaskan, bahwa Allah SWT berjanji akan menolong para nabi dan rasul-Nya. Dan Allah akan menolong orang-orang yang menolong mereka dengan pertolongan yang nampak pengaruhnya baik di dunia maupun di akhirat.

Pada ayat ini, Allah juga menggunakan tauqid dengan dua perangkat tauqid, yaitu inna dan lam ibtida’. Hal ini menunjukkan bahwa khabar/informasi belum diyakini sepenuhnya sehingga harus ditekankan sebanyak dua kali, bahwa Allah pasti akan menolong para rasul-Nya dan orang-orang yang mengimaninya. Pertolongan Allah benar-benar dapat mereka rasakan dalam kehidupan di dunia ini, baik berupa kemenangan dalam menghadapi peperangan dengan orang-orang kafir, ataupun kemudahan dalam menyelesaikan persoalan kehdupan yang mereka hadapi, misalnya kekurangan air atau kekurangan makanan dll. Yang pasti mereka juga akan mendapat pertolongan Allah pada saat dibangkitkan di padang makhsyar pada hari kiamat nanti. Pada saat harta dan keluarga tidak dapat memberikan pertolongan, kecuali amalnya selama hidup di dunia serta syafaat dari rasul-Nya.

Setelah yakin akan kepastian pertolongan-Nya, Allah juga menjelaskan akan kekuatan dan keperkasaan-Nya dengan dua perangkat tauqid yang lain yaitu, inna dan lam ibtida’, agar orang yang menerima informasi yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa sesungguhnya Allah sunguh-sungguh Maha Kuat dan Maha Perkasa yang tidak akan bisa ditandingi dan dikalahkan oleh kekuatan dan keperkasaan manapun, sekalipun seluruh kekuatan yang ada di dunia ini bergabung untuk mengalahan kekuatan Allah, semua itu tidak ada artinya di hadapan Allah. Dengan demikian orang yang menolong Allah, yakni menolong agama Allah, menolong Nabi-Nya dan berperang di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah, akan ditolong oleh Dzat yang memiliki kekuatan yang tiada tara yang tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan manapun yang ada di dunia sekalipun mereka semua bersekutu untuk mengalahkannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir pada potongan akhir ayat ini, bahwa Allah menyifati dirinya dengan Maha Kuat dan Pekasa. Dengan kekuatan-Nya Allah menciptakan segala sesuatu dengan taqdirnya, dan dengan keperkasaan-Nya tidak ada sesuatupun yang dapat memaksanya, tidak ada sesuatupun yang dapat mengalahkannya, tetapi segala sesuatu tunduk dan rendah dihadapannya. Dan barangsiapa ditolong oleh Dzat yang Maha Kuat dan Maha Perkasa, maka orang tersebut pasti mendapat kemenangan dan semua musuhnya akan tunduk kepadanya.

Inilah rahasia kemenangan kaum muslimin terhadap musuh-musuhnya yang berlangsung berabad-abad lamanya. Kunci kemenangan itu terletak pada ketsiqohan mereka di dalam menolong agama Allah, dan kesetiaan mereka dalam menolong Rasulullah dalam kondisi senang atau susah, dalam kondisi berat maupun ringan, serta kesabaran mereka dalam berjihad melawan musuh-musuh Allah untuk menegakkan kalimat Allah agar tetap tegak muka bumi. Dalam keterbatasan biaya, kekurangan perbekalan, minimnya akomodasi dan persenjataan serta jumlah pasukan yang tidak sebanding, mereka tetap tsiqoh, tidak mundur sedikitpun. Terik matahari yang membakar kulit, perjalanan panjang berhari-hari bahkan berbulan-bulan tidak menyurutkan semangat mereka dalam membela agama Allah. Karena mereka telah menolong Allah, maka Allah yang Maha Kuat dan Maha Perkasa juga menolong mereka. Kekuatan mana yang mampu menghadapi kekuatan dan keperkasaan Allah ?


Penghalang Nashrullah

Dalam surah Al-Hajj ayat 40, Allah pasti menolong orang yang menolong Allah. Pada ayat 41, Allah menyifati orang-orang yang mendapat pertolongan tersebut :

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

Artinya : (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Allahlah kembali segala urusan.

Kalau pada ayat tersebut Allah menunjukkan karakter orang-orang yang akan mendapat pertolongan Allah, maka sebaliknya pertolongan Allah tidak akan diberikan kepada orang-orang yang tidak memiliki karakter sebagaimana yang telah Allah tetapkan. Karakter orang yang mendapat pertolongan Allah adalah orang-orang yang menjalankan/mengerjakan syariat Islam dan orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Sedangkan orang-orang yang melanggar syariat Islam, apalagi berupaya mengganti syariat Islam dengan aturan yang lain, tentu pertolongan Allah tidak akan diberikan. Demikian juga orang-orang yang tidak mau melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, tentu tidak akan mendapatkan pertolongan Allah.

Karakter yang lain yang tidak akan mendapat pertolongan Allah adalah:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

Artinya : Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang dzalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan (TQS. Huud : 113)

Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan sifat orang yang tidak mendapat pertolongan Allah adalah orang yang cenderung kepada orang yang berbuat dzalim dan meridloi kedzaliman yang mereka lakukan serta tidak ada upaya untuk menghentikan kedzaliman mereka.


أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآَخِرَةِ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

Artinya : Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong (TQS. Al-Baqarah : 86)

Sedangkan pada surat Al-Baqarah ayat 86 ini, Allah menjelaskan karakter yang lain, yaitu orang-orang yang hanya mementingkan urusan dunia dan mengabaikan urusan akhirat. Pada ayat 85, yang termasuk kategori ini adalah orang-orang mengimani sebagian isi Al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain.

Perbuatan-perbuatan melanggar syariat, tidak mau melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, cenderung kepada orang-orang yang berbuat dzalim, dan hanya mementingkan urusan dan mengesampingkan urusan akhirat, serta perbuatan-perbuatan maksiat inilah yang menghalangi turunnya nashrullah.

Maka, tepat apa yang dikatakan Umar, yang aku takuti bukan kekuatan dan banyaknya musuh. Tetapi yang aku takuti adalah perbuatan-perbuatan maksiat yang akan menghalangi datangnya nashrullah. Betapapun kekuatan musuh dan berapapun jumlah mereka tidak akan ada artinya dibandingkan pertolongan Allah yang Maha Kuat dan Maha Perkasa.

Wallahu a’lam bish-showab
( www.fikrulmustanir.blogspot.com atau www.mentorplus.multiply.com )

Friday, September 11, 2009

Rahasia Sukses Rasulullah Saw dalam berkarier.


Terus Tingkatkan Valensi Diri!
Mengambil teladan pada diri Rasulullah Saw.

Sobat, setiap orang pasti menginginkan karier yang cemerlang di tempatnya bekerja. Dan orang yang sukses sudah barangtentu menyiapkan kariernya sejak dini. Mereka telah menetapkan visi dan misi dalam hidupnya. Ingat orang yang berani membuat proposal hidupnya dengan jelas dan ditulis jumlahnya hanya 3 %. Sudahkah kita membuat proposal hidup kita yang ditujukan kepada Allah SWt sebagai do’a dan mewujudkannya adalah bagian dari pengabdian kita kepada-Nya?
Sobat, orang yang sukses adalah orang-orang yang fokus sejak awal. Salah satu diantaranya upaya fokus untuk membaca buku-buku yang berhubungan dengan karier atau bidang expert yang ingin diraihnya. Kalau kita seminggu membaca tiga buku maka dalam satu tahun kita menguasai 144 buku dan dalam 10 tahun 1440 buku. Bayangkan sobat, untuk menyelesaikan S-3 saja, seorang calon doktor hanya wajib membaca 40 buku referensi di bidang yang akan ditulisnya. Sementara jika kita terbiasa membaca buku seminggu tiga kali dengan buku keahlian khusus yang ingin anda dalami, maka dalam 10 tahun kita telah menamatkan 1440 Buku. Dalam sebuah penelitian kekinian juga menyebutkan kalau kita memiliki jam terbang 10.000 jam selama 10 tahun atau rata-rata 3 jam per hari meningkatkan expert maka kita akan menjadi kelompok yang 1 % manusia yang ahli dibidangnya. Uang? Lupakan! Uang akan mengejar kita karena keahlian yang kita miliki.
Sobat, mari kita terus meningkatkan valensi diri kita setidaknya 3 jam tiap hari di bidang yang kita akan menjadi expert. Kebangkan terus ilmu kita sesuai dengan perkembangan ilmu pengeahuan jangan lupa terus berbagi kepada sesama. Insya Allah ilmu kita jadi bermanfaat. Selain itu kita harus memiliki kesimbangan antara karier di dunia dan di akherat. Dan kita bisa belajar dari baginda Rasulullah Saw. Beliau bukan hanya seorang Nabi tetapi beliau juga adalah seorang kepala negara yang luar biasa. Ketika beliau menjadi seorang kepala negara, banyak orang yang mendapatkan manfaat. Berbeda dengan Fir’aun, Hitler, atau Stalin atau penguasa-penguasa sekarang di negeri-negeri kaum muslimin saat ini justru pada saat mereka berkuasa banyak membuat kesengsaraan dan banyak orang yang kehilangan jiwa dan raganya karena abai terhadap syariat Allah Swt.
Sobat, diantaranya rahasia kesuksesan karier Rasulullah Saw adalah :
1. Nabi Muhammad Saw selalu bekerja profesional, dengan cara terbaik dan tidak asal-asalan. Beliau pernah bersabda, ” Sesungguhnya Allah menginginkan jika salah seorang dirimu bekerja, maka hendaklah meningkatkan kualitasnya.”
2. Rasulullah Saw dalam bekerja melakukan manajemen yang baik, perencanaan yang jelas, memiliki tahapan-tahapan tindakan dan penetepan skala prioritas.
3. Rasulullah Saw tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan sekecil apa pun. Rasul pernah bersabda, ”Barangsiapa yang dibukakan pintu kebaikkan, hendaknya dia mampu memanfaatkannya. Karena ia tidak tahu kapan ditutupkan kepadanya.”
4. Nabi Muhammad Saw. Dalam bekerja selalu mempertimbangkan masa depan. Beliau adalah sosok yang visioner, sehingga segala aktivitasnya benar-benar terarah dan terfokus. Kita bisa baca firman Allah QS Al-Hasyr :18.
       •    •   •     
18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

5. Rasulullah Saw tidak pernah menangguhkan pekerjaan atau menunda-nunda pekerjaan. Beliau bekerja secara tuntas dan berkualitas karena beliau menerapkan ayat al-qur’an yang diwahyukan kepada beliau silahkan baca QS. Al-Insyirah :7.
6. Nabi Muhammad Saw bekerja secara berjamaah, dengan mempersiapkan membentuk tim yang solid, yang percaya pada cita-cita bersama. Hal ini sesuai dengan QS. Ali Imran ayat 103.
7. Rasulullah Saw adalah pribadi yang sangat menghargai waktu. Tidak berlalu sedikitpun waktu kecuali menjadi nilai tambah bagi diri dan umatnya. Ingat surat Al-Ashr.
8. Dan yang lebih penting dan utama, Rasulullah Saw menjadikan kerja sebagai aktualisasi keimanan dan ketakwaan. Nabi Muhammad Saw bekerja bukan untuk menumpuk kekayaan duniawi tetapi beliau bekerja untuk meraih keridhoan Allah Swt, Inilah justru kunci utamanya.
Sobat, semoga kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dari rahasia kesuksesan karier baginda Rasulullah Saw di atas.
Salam Sukses Mulia.
Salam Dahsyat dan Luar Biasa!
( Spiritual Motivator, N.Faqih Syarif H. www.mentorplus.multiply.com atau www.fikrulmustanir.blogspot,com )

Mensahkan RUU Ketenagalistrikan adalah kemungkaran. DPR itu pro Rakyat atau pro Asing?


HTI Press. Hari ini (8/9), DPR dan pemerintah mencoba mengotori Bulan Suci Ramadhan yang penuh barakah ini. Menjelang berakhirnya masa jabatan di periode 2004-2009 ini mereka mencoba meloloskan sebuah Rancangan Undang-Undang Ketenagalistrikan (RUUK). RUU yang akan disahkan ini merupakan ‘hantu’ atau jelmaan dari UU Nomer 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan yang telah dibatalkan Mahkamah Konstitusi pada 15 Desember 2004.

“Untuk technical assistance pembuatan UU No. 20 yang syarat dengan kepentingan asing tersebut memakan biaya 20 juta dollar Amerika!” pekik Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Badan Usaha Milik Negara Strategis ( FSP BUMN Strategis) Ahmad Daryoko di depan ribuan massa FSP BUMN Strategis dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Selasa (8/9) di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta.

“Begitu UU pesanan asing tersebut dibatalkan, direktur PLN dipanggil, dicaci maki, dihabisi, namun sebenarnya DPR itu senang karena akan ada proyek baru lagi,” beber Daryoko “Nah, proyek barunya ya sekarang ini,” ujarnya sambil menunjuk ke gedung DPR yang dipagar tinggi dan dikunci rapat-rapat.

Tidak sampai sebulan, karena Oktober nanti mereka tidak lagi duduk menjadi anggota DPR sehingga mereka harus kejar setoran. “Ambil pundit-pundinya, sahkan UU-nya, kemudian go out! Apa yang terjadi urusan lo semua” begitulah Daryoko menggambarkan mental wakil rakyat yang tidak bertanggung jawab yang sedang Sidang Pleno itu.

Daryoko pun menceritakan betapa arogannya wakil rakyat tersebut. Ia pernah dipanggil oleh salah satu fraksi, kemudian ia mengatakan, “Bapak-bapak ini percuma mengesahkan UUK ini karena akan kami hadang lagi di MK”. Kemudian salah satu anggota DPR itu menjawab, “Kalau MK mau membatalkan lagi, maka sebelum MK membatalkan, MK akan kami bubarkan”. Daryoko pun balik menantang, kalau MK dibubarkan akan terjadi revolusi.

“Pengesahan RUUK dikebut karena ada pundi-pundi, tetapi UU Tindak Pidana Korupsi mana mau digarap? Tidak ada karena mereka juga tersangkut! Kalau begitu, bubarkan saja DPR, setuju?” tandasnya dan disambut pekikan setuju dari massa yang berdatangan dari berbagai perwakilan cabang FSP BUMN di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Jubir HTI Ismail Yusanto menyatakan keluarga besar HTI mendukung penuh perjuangan keluarga besar FSP BUMN Strategis untuk menggagalkan diberlakukannya RUUK menjadi UUK. Ismail pun mengingatkan kepada semuanya hendaknya perjuangan ini diniatkan sebagai bentuk dari amar makruf nahi munkar.

Sehingga Allah SWT, insya Allah, akan melipatgandakan hingga 70 kali lipat aktivitas amar makruf nahi mungkar di bulan-bulan yang lain. “Pengesahan RUUK adalah sebuah kemunkaran! Karena itu harus kita tolak!” pekik Ismail yang disambut pekikan Allahu Akbar dan tolak, tolak, tolak oleh massa yang tetap bersemangat meski matahari terik menyengat.

Ismail pun menjelaskan letak kemunkaran RUUK tersebut, diantaranya terletak pada kata “dapat” di Pasal 10 dan Pasal 11. Dari kata tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa RUUK ini memuat gagasan unbundling dan privatisasi yang pasti akan menghancurkan PLN serta merugikan rakyat dan negara.

HTI pun mengingatkan, tegas Ismail, kasus PLN ini merupakan salah satu contoh tentang penjajahan global bekerja dan bagaimana setiap langkahnya ditopang oleh para anteknya yang tiada lain adalah orang Indonesia juga yang duduk di DPR dan pemerintahan. Mereka akan terus bekerja hingga seluruh kekayaan negeri ini mereka kuasai. “Dengan kesadaran ini, mestinya kita secara konsisten menolak segala bentuk liberalisme, kapitalisme, dan sekularisme” ujarnya.

Di sinilah relevansi yang sangat nyata dari seruan Selamatkan Indonesia dengan Syariah karena justru syrariahlah satu-satunya yang mampu mengatur negeri ini dengan baik dan benar. Dalam pandangan syariah, energi baik berupa listrik, gas, batubara dan lainnya, merupakan milik rakyat.

Hanya negaralah yang berhak mengelola sumber daya energi yang dilakukan untuk kesejahteraan rakyat. “Menyerahkan kepada swasta apalagi swasta asing, termasuk unbundling dan privatisasi PLN, jelas bertentangan dengan syariah. Karenanya harus ditolak. “Dengan demikian, harus dinyatakan, bahwa syariahlah yang terbukti bisa membebaskan negeri ini dari penjajahan global” pungkas Ismail. [] joko prasetyo

Next Prev home