Sang Spiritual Motivator

Sang Spiritual Motivator
Photo Mr.Faqih Syarif

Sunday, March 29, 2009

Valensi dan Kesuksesan


VALENSI DAN KESUKSESAN
Apakah yang membuat seseorang lebih sukses dari pada orang lain?, ada yang menyimpulkan disebabkan tingkat intelegensi, ada yang mengatakan dikarenakan mentalitas dan emosional, ada pula peneliti yang berpendapat bahwa asapek spiritualitas yang memegang peran utama. Lalu factor manakah sebenarnya yang menentukan tingkat kesuksesan seseorang?. Jawabnya adalah semuanya berperan. Karena manusia merupakan makhluk yang kompleks sehingga harus dipandang secara menyeluruh. Segala unsur dalam diri seseorang turut ambil bagian dalam membentuk kesuksesannya.Keseluruhan kapasitas manusia itulah yang penulis sebut sebagai Valensi. Menurut Kubik training & consultancy valensi adalah ”takaran” atau “bobot” yang mewakili keseluruhan kapasitas diri anda .(Jamil dkk:19:2008). Setiap orang memiliki tingkat valensi yang berbeda-beda. Valensi yang dimiliki seseorang akan menentukan kualitas hasil usahanya dan mempengaruhi tingkat sukses orang tersebut. Adapun sifat dari valensi yang berhubungan dengan kesuksesan adalah sebagai berikut:
1.Valensi adalah modal kerja utama Artinya valensi merupakan factor utama penentu kesuksesan dalam mengelola sebuah usaha. Sebagai contoh, apabila ada 2 orang Si A dan Si B adalah lulusan dari Universitas yang sama. Diberi modal untuk usaha masing-masing 100 juta. Ternyata setelah lima tahun si A ternyata usahanya lebih maju dari si B. karena si A memiliki valensi lebih tinggi dari si B sehingga bisa mengelola usahanya dengan lebih baik dan mendapat keuntungan lebih besar.
2.Valensi adalah kekuatan dan keterbatasan Seseorang pengetik professional dengan valensinya mungkin bisa mengetik setumpuk tulisan dalam satu jam, yang bagi orang lain membutuhkan waktu lima jam. Tapi meskipun demikian pengetik tersebut tidak bisa menyelesaikan ketikan tiga tumpuk kertas dalam satu jam karena valensinya membatasi dia hanya bisa mengetik satu tumpuk kertas dalam satu jam. Untuk bisa mengetik tiga tumpuk kertas dalam satu jam dia harus meningkatkan valensinya. Itulah mengapa valensi bisa menjadi kekuatan dan keterbatasan seseorang.
3.Valensi adalah kemudi hidup Valensi menentukan arah hidup seseorang. Ada sebuah cerita tentang dua orang sopir yang memiliki arah hidup berbeda. Sopir pertama sudah 15 tahun bekerja, suatu ketika dia ditanya apakah yang paling dia inginkan selama hidupnya? Si sopir menjawab dia ingin menanam pohon salak di desanya. Sopir kedua juga telah lama jadi supir resmi perusahaan, tapi dia malah minta berhenti dan membuka warung soto, dan usahanya berkembang sehingga berhasil membuka kantin di Pertamina. Saat ditanya apa rencananya kedepan? Dia jawab mau membuka restoran di jalur pantura dan lokasi strategis lain di Indonesia. Mengapa jalan hidup kedua sopir ini begitu berbeda? Tak lain karena valensi mengarahkan kehidupan mereka.
4.Valensi menentukan kelas persaingan Kita akan cenderung berkompetensi dengan orang-orang yang memiliki tingkat valensi sama. Keberanian seseorang untuk menargetkan arena permainannya mencerminkan tingkatan valensinya. Seorang pengusaha yang menargetkan pengusaan pasar lokal tidak akan berusaha untuk bermain di pasar nasional. Sebaliknya meskipun masih baru dan modal masih terbatas pengusaha yang sejak awal menargetkan pasar nasional akan berkecimpung di tingkat ini. Tinggi rendahnya arena permainan menggambarkan tingkat valensi kita.
5.Valensi cenderung tetap Nilai valensi seseorang cenderung tetap, bertambahnya umur tidak menjamin tingkat valensi yang lebih tinggi. Valensi seseorang ibarat sebuah karang semen. Apabila kita mempelajari suatu pengetahuan maka sifatnya seperti memasukkan udara kedalam gelas, mudah masuk mudah keluar. Saat kita mempelajari berulang-ulang maka pengetahuan itu akan berubah ibarat air jernih dan jika diamalkan akan membentuk larutan, semakin diamalkan semakin kental. Saat kita mengajarkannya, larutan kental itu berubah menjadi larutan semen dan lama-kelamaan akan mengering membentuk karang semen. Valensi adalah konstanta diri kita, jadi untuk merubahnya adalah hal yang sulit, tapi bukan berarti tak bisa dilakukan sebab Allah tidak akan merubah nasib kita apabila kita tidak merubahnya sendiri.
Sekarang bagaimanakah agar bisa sukses dengan bermodalkan valensi yang kita miliki?, seperti dijelaskan sebelumnya nilai valensi cenderung tetap jadi bila kita menginginkan tingkat kesuksessan tinggi kita harus meningkatkan nilai valensi kita dan memperbaiki cara hidup dengan menggunakan teknik sukses tertentu. Peningkatan valensi merupakan hal yang sulit, membutuhkan usaha keras dan sungguh-sungguh. Jadi kita harus sungguh-sungguh melakukannya tidak sekedar mencoba melakukan. Karena jika hanya mencoba berarti kita mempersiapkan diri untuk gagal dan mudah menyerah saat kesulitan datang. Untuk itulah mari jalani dengan sungguh-sungguh langkah demi langkah untuk meningkatkan valensi kita.Menurut sebagian besar ilmuwan Valensi dibentuk oleh lingkungan dan genetic. Lingkungan menyumbang sekitar 80% dan factor keturunan menyumbang 20%. Artinya lingkungan berperan sangat besar untuk membentuk valensi kita sekaligus menghambat bahkan merusaknya. Untuk itu, pertama kita harus mengenali factor pembentuk dan penghambat valensi, Kemudian menakar valensi kita, memimpin diri untuk melakukan perubahan, dan akhirnya mengenali hasil dan menjadikannya modal untuk naik ketingkat valensi yang lebih tinggi. Penjelasan keempat langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1.Mengenali faktor pembentuk dan penghambat valensi Untuk mengenali faktor pembentuk dan penghambat valensi kita harus tahu “rantai gajah” dan “kotak korek api” kita. “Rantai gajah” adalah persepsi negatif kita terhadap diri kita sendiri atau lingkungan sehingga membuat kita kerdil dan enggan berkarya besar, seperti gajah yang sejak lama dirantai di pohon dan diberi makan. Saat rantainya dilepas dia tidak akan pergi mencari makan karena dalam pemikirannya rantai itu masih ada di kakinya, valensinya dikerdilkan. Sedangkan ”kotak korek api” adalah sesuatu yang ada diluar diri kita yang menghambat kita menunjukkan potensi yang sesungguhnya. Contohnya anda memiliki teman yang berbicara “ngapain sih kerja keras-keras, kamu gak bakal naik jabatan kok!” atau atasan anda adalah orang yang tidak suka disaingi saat anda berprestasi dia malah menghambat karir kita. Mereka itulah kotak korek api. Untuk itu agar bisa berubah dan meningkatkan valensi kita harus buang jauh rantai gajah itu dan tidak membiarkan diri terpenjara kotak korek api.
2.Menakar Valensi diri Untuk menakar valensi kita kita harus membandingkan prestasi diri kita dengan orang lain dengan usia, latar belakang, dan lingkungan mirip dan sepantaran dengan kita. Apabila prestasi kita lebih baik, berarti valensi kita lebih baik pula. Cara kedua adalah dengan membenturkan diri kita pada pekerjaan dan tantangan yang besar. Seberapa tahan kita menghadapi cobaanya?, seberapa mampu kita menyelesaikan permasalahannya?, dan seberapa baik prestasi kita?. Jawabannya dari pertanyaan ter sebut akan menunjukkan takaran valensi kita.
3.Memimpin perubahan diri Perubahan dari dalam diri seseorang tidak datang dengan sedirinya. Kita harus memimpin perubahan itu. Mengambil kendali hidup kita dan bertanggung jawab pada apa pun yang terjadi pada perjalanan hidup. Lakukan secara konsisten, terstruktur dan berkesinambungan. Maka kita akan siap naik ke tingkat valensi lebih tinggi.
4.Mengenali hasil dan menggunakannya sebagai modal untuk naik ke tingkat valensi lebih tinggi Saat mulai tampak perubahan valensi yang lebih baik dan memperoleh kepercayaan diri. Maka kita harus mulai mencoba naik ke tingkat valensi yang lebih tinggi dengan melakukan hal-hal berikut:
5.Melibatkan diri dalam pekerjaan besar yang kita pikir mustahil melakukannya. Bersaing dengan orang-orang yang kita anggap valensinya lebih tinggi. Berani mengambil resiko, dengan berusaha mewujudkan hal-hal positif yang dulu kita anggap terlalu beresiko untuk dilakukan. Berteman dengan orang bervalensi tinggi. Ketika seluruh tahap ini telah kita lakukan maka kita telah berada di tingkat valensi lebih tinggi. Maka setelah itu kita harus mengamalkan terus ilmu ini dan mengajarkan pengalaman kita kepada orang lain. Semakin banyak diamalkan dan diajarkan maka valensi tambahan akan semakin mantab menjadi bagian dari diri kita. (Akhmad)( Akhmad Yusuf Mhs Unesa Peserta Mentor FM Plus, www.mentorplus.multiply.com atau www.fikrulmustanir.blogspot.com )

Next Prev home

0 comments:

Post a Comment